Kamis, 10 November 2011

TOKOH WIRAUSAHA

ABDUL GHANY AZIZ -- Firma Kiagoos dan PT Masayu

Tokoh ini dilahirkan pada tanggal 28 November 1893. Keturunan Sumatera Selatan (Palembang) tapi dilahirkan di Betawi atau Jakarta.

Dalam bidang kewirausahaan, Abdul Ghany termasuk beruntung karena ia mempunyai tokoh panutan, yaitu ayahnya sendiri. Sang ayah, Kiagoos Abdul Aziz, adalah seorang pedagang besar yang bergerak dalam jual beli hasil-hasil pertanian. Oleh karenanya, tidak mengherankan bila naluri dagang Abdul Ghany begitu dominan. Meski pendidikannya hanya sebatas Sekolah Dasar (HIS = Hollands Inlandsche School) yang tidak tamat pula, kehidupannya justru sangat sukses melalui dunia usaha.

Karirnya dimulai sejak kecil, sekitar usia 11 tahun ia telah mulai membantu sang ayah, pemilik perusahaan Firma Kiagoos Abdul Aziz & Co. Di sini Abdul Ghany dididik sangat keras dalam praktik berusaha. Meski bekerja dengan ayah sendiri, ia harus memulai segalanya dari bawah. Mula-mula sebagai penjaga gudang, untuk meningkat sedikit demi sedikit, sebelum mendapat lampu hijau dari sang ayah untuk membangun dan mengelola usahanya sendiri.

Sayangnya, jalan hidup Abdul Ghany memang berada pada tahun-tahun yang keras. Tahun 1914 sampai 1918 meletus Perang Dunia I.

Pengaruhnya cukup dahsyat atas kondisi perekonomian dunia, termasuk di Indonesia. Daya beli masyarakat anjlok, sedang barang dagangan menjadi langka. Sekitar tahun 1922, Abdul Ghany mengelola cabang Firma Kiagoos di Palembang. Namun karena dampak perang terus menerus menyebabkan kesulitan ekonomi, akhirnya perusahaan ini tutup karena bangkrut. Dan Ghany pun memutuskan untuk hijrah ke Singapura, mencari pekerjaan.

Ia menghabiskan waktu sekitar 2 - 3 tahun di negeri Singa untuk bekerja sebagai pembantu di sebuah rumah makan, sambil juga berusaha dengan jalan menjadi pedagang perantara valuta asing (dolar) bagi para pedagang Indonesia yang datang ke sana. Saat terjadinya pemberontakan komunis di Indonesia tahun 1927, ia pulang ke tanah air, dan kembali mencoba berbisnis dalam bidang hasil pertanian di Sumatera Selatan, yang antara lain meliputi kopi, rotan dan karet.

Ghany sangat idealis dan pemberani. Ia tidak takut untuk bersaing dengan pedagang-pedagang Cina yang menguasai jaringan perdagangan di bidang itu. Untuk memenangkan persaingan, tidak tanggung-tanggung ia membayar lebih dahulu harga hasil bumi yang masih dalam masa tanam, kepada para petani. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk memenuhi permintaan para kliennya, para eksportir.

Namun apa mau dikata. Musim hujan yang berkepanjangan menghancurkan segalanya, mulai dari persawahan petani yang tidak bisa lagi di panen, sampai harapan Ghany yang melihat dengan sayu betapa para petani itu tidak mampu memenuhi kewajiban untuk memasok hasil pertanian yang telah ia bayar di muka. Maka, lagi-lagi bangkrutlah ia.

Demikianlah perjuangan tokoh wirausaha ini berlanjut terus di bawah tekanan penderitaan bertubi-tubi. Ia konsisten dengan pendiriannya untuk selalu berada di jalur wirausaha, meski kenyataan pahit selalu membayangi. Tekanan datang dari pemerintah Belanda, yang antara lain telah memberlakukan peraturan pajak diskriminatif, di mana para pengusaha pribumi harus membayar jauh lebih besar dibanding kewajiban yang dikenai pada para pengusaha Belanda. Di samping itu, tekanan juga datang dari persaingannya dengan jaringan usaha kaum pedagang keturunan, yang dengan perkumpulan-perkumpulannya tidak segan untuk melancarkan strategi doping (menjatuhkan harga). Dengan doping tersebut, banyak perusahaan-perusahaan pribumi yang harus gulung tikar, dan kendali harga sepenuhnya dipegang kembali oleh kaum pedagang keturunan.

Tahun 1939, Ghany beserta dua rekan masing-masing Ayub Rais dan Dasaad, mendirikan sebuah perusahaan yang dinamakan Malaya Import.

Perusahaan ini bergerak dalam bidang penjualan tekstil, yang diimpor dari Jepang.

Tahun 1940, satu lagi perusahaannya didirikan, kali ini bernama Firma Kiagoos Brothers bersama-sama Dasaad. Perusahaan tersebut juga berkiprah dalam penjualan tekstil. Sebuah pabrik tekstil milik Belanda yang dibeli di Bangil, menjadi tumpuan harapan mereka untuk meraih sukses.

Akan tetapi, baru saja perusahaan ini mau tinggal landas, tentara pendudukan Jepang datang, dan merampas habis semua komoditas yang mereka miliki. Dan sekali lagi, buyarlah harapan Ghany untuk dapat mencapai cita-citanya yang tinggi di dunia usaha. Meski begitu, Ghany tidak pernah berputus asa. Dengan sisa-sisa sumber daya yang masih dimiliki, ia melanjutkan usahanya dengan berdagang produk- produk pertanian seperti kopi dan teh. Di tahun 1943, ia bahkan masih bisa mendirikan sebuah badan usaha lagi, yang diberi nama Masayu Trading Company. Nama Masayu berasal dari nama isterinya, Masayu Zaleha.

Masayu Trading Coy berkantor di Bandung, tepatnya di Jalan Tamblong.

Pada awalnya perusahaan ini menunjukkan perkembangan yang sangat baik, sehingga kantornya selalu diliputi oleh kesibukan setiap hari.

Sementara itu, setelah Jepang menyerah kepada pihak Sekutu, timbul gerakan-gerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebagai putra bangsa, biar bagaimana, Ghany mendukung perjuangan kaum pemuda dalam usaha merebut kemerdekaan. Oleh karena itu, di kantornya yang luas, ia menampung kegiatan-kegiatan Kantor Berita "Antara" yang berfungsi sebagai corong perjuangan, serta mengakomodasikan pula kegiatan- kegiatan kaum pemuda untuk siap berperang melawan tentara Belanda yang membonceng tentara Sekutu. Pada akhirnya, kegiatan ini tercium oleh tentara Inggeris, sehingga dalam suatu penggerebekan yang dilakukan tentara Gurkha, kantor Masayu Trading Coy rusak berantakan, semua komoditas pertaniannya juga habis hancur luluh atau dirampas.

Kejadian yang merupakan bagian dari peristiwa Bandung Lautan Api itu, menyebabkan Ghany bangkrut sekali lagi.

Setelah itu, sehubungan dengan situasi negeri yang memanas dan tidak menentu akibat meletusnys perang kemerdekaan, Ghany mau tidak mau juga ikut terdampar ke sana ke mari. Mula-mula ia mengungsi ke Tasikmalaya. Di kota ini, naluri bisnisnya membuat ia menjalankan usaha di bidang kerajinan tangan khas daerah Jawa Barat seperti payung geulis, anyaman bambu dan lain-lain.

Pengungsiannya berlanjut ke kota Yogyakarta, karena situasi perang yang semakin gawat. Di kota gudeg, lagi-lagi ia menjalankan bisnis, kali ini dalam bidang penjualan arang. Yang menarik adalah, usahanya pada waktu itu, sama sekali tidak bermodalkan uang. Uang menjadi langka pada masa perang. Oleh sebab itu, modalnya hanyalah kepercayaan. Ia mengambil arang dari kota Purworejo, untuk kemudian diangkut dengan kereta api ke Yogya, dan dijual di sana. Baru setelah laku, ia bayar hutangnya kepada pemilik barang.

Meski berjalan cukup baik, namun pendapatannya di bidang bisnis arang tersebut tidaklah terlalu menggembirakan. Maka pada tahun 1949, Ghany kembali ke Jakarta. Dengan hanya bermodal dengkul, ia putuskan untuk memulai lagi bisnisnya sama sekali dari nol. Ia tidak punya uang. Oleh sebab itu, ia mengandal pada kepercayaan orang lain serta semangat kewirausahaan yang pantang mundur. Ditemuinya beberapa pemilik produk tekstil serta barang-barang kelontong lainnya di daerah Jakarta Kota, dan ia tawarkan sebuah program kerja sama penjualan atas barang-barang dagangan tersebut.

Para pemilik produk yang terdiri dari orang-orang keturunan India dan Cina itu merasa terkesan dengan sikap Ghany yang jujur dan penuh semangat, sehingga mereka setuju dengan program kerja sama yang ditawarkan Ghany. Maka singkatnya. jadilah Ghany juru pemasar barang- barang dagangan milik para taukeh di Jakarta. Dari kerja sama perdagangan ini, Ghany mulai mendapat sukses, dan perlahan-lahan ia bisa mengumpulkan sejumlah uang.

Atas anjuran seorang rekan, Rahman Tamin, Ghany mulai menimbang- nimbang untuk mengaktifkan kembali perusahaan miliknya dulu, yaitu Masayu. (Dasaad dan Rahman Tamin adalah orang-orang yang dekat dengan Ghany, dan keduanya juga merupakan pengusaha-pengusaha besar serta kenamaan di Indonesia masa itu. Mereka termasuk Wirausahawan Indonesia Generasi I).

Akhirnya, pertimbangannya menjadi kenyataan. Dengan berbekal sejumlah uang hasil kerja sama dengan para taukeh di Kota, Ghany menghidupkan kembali Masayu, dan langsung menggebrak dalam bidang penjualan tekstil. Ia kerahkan semua tenaga, kemampuan dan strategi dagang yang dimiliki, demi masa depan yang lebih menjanjikan.

Ternyata, nasibnya kali ini cukup baik, sedikit demi sedikit perusahaannya memperoleh kemajuan, sampai satu saat ia merasa perlu untuk mencari mitra di luar negeri. Ia tidak mau terus menerus bergantung kepada Dasaad dengan perusahaannya Gindo and Dasaad Concern, yang meminjamkan Surat Ijin Ekspor kepadanya.

Tanpa bekal kemampuan berbahasa Belanda sama sekali, Ghany pergi ke Negeri Belanda. Untung ia berjumpa dengan orang Jerman yang fasih berbahasa Indonesia, yang kebetulan pula merupakan seorang pimpinan perusahaan alat-alat pertanian keluaran Jerman. Bersama orang tersebut, Ghany berhasil menjalin kerja sama untuk mengageni produk peralatan pertanian di Indonesia, dengan merek Carl Schlieper.

Demikianlah Abdul Ghany Aziz, pada akhirnya mendapatkan jalan lurus menuju kesuksesan setelah kepergiannya ke Negeri Belanda serta perjumpaannya dengan orang Jerman yang menjadi mitra bisnisnya.

Dengan usaha yang tidak kenal menyerah, ia berhasil mendapatkan order dari Departemen Pertanian untuk pengadaan alat-alat bertani. Dari situ ia juga berhasil meningkatkan penjualannya kepada berbagai pihak lain.

Meski awal kiprahnya menjadi agen Carl Schlieper mendapat masalah tuntutan hak paten dari sebuah perusahaan Belanda yang bernama Java Staal, namun Ghany berhasil mengatasi masalah tersebut dengan bantuan perusahaan Carl Schlieper sendiri yang terjun langsung ke Pengadilan. Demikian juga pada saat berikutnya, ketika orang-orang dan perusahaan-perusahaan Belanda yang tidak senang dengan sepak terjangnya membuat ulah macam-macam, ia juga berhasil mengatasinya dengan baik. Bahkan pada akhirnya, beberapa pengusaha Belanda memutuskan untuk menjalin persahabatan dengan tokoh kita yang amat ulet ini.

Setelah berbagai peristiwa itu berlalu, Abdul Ghany Aziz makin membakukan dirinya sebagai pengusaha yang tangguh. Ia pergi ke Amerika untuk mengambil keagenan berbagai produk penunjang pertanian, antara lain menjadi agen traktor dan buldozer. Perusahaannya, Masayu dan Kiagoos terus tumbuh kokoh dengan berbagai kantor cabangnya di kota-kota besar di Indonesia, lengkap dengan ratusan orang karyawan yang siap bekerja keras. Ia bahkan juga berhubungan dengan sebuah perusahaan asing, Bristow Ltd., untuk mengageni produk helikopter dari perusahaan tersebut. Maka muncullah PT Bristow Masayu Helicopters yang berkantor di Jl. Jend. Sudirman Jakarta.

Sosok Abdul Ghany adalah sosok pekerja keras yang pantang menyerah.

Ia baru menyatakan diri pensiun saat usianya mencapai 71 tahun, ketika ia merasa yakin bahwa fungsinya sebagai pimpinan dapat didelegasikan kepada para manajer profesional. Itu pun ia koreksi setelah mendapatkan kenyataan bahwa korupsi merajalela di dalam perusahaan, beberapa tahun setelah ia tinggalkan.

Banyak orang kemudian tercengang bahwa ada seorang wirausahawan yang pada usia 84 tahun, kembali aktif memimpin perusahaan besar dengan ratusan karyawan di bawahnya. Itulah Abdul Ghany Aziz pada tahun 1977….

Reff : http://bikaambon.multiply.com/journal/item/7/Dari_arang_sampai_helikopter_Wirausaha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar